Saturday, 27 April 2013

DAKWAH DALAM ISLAM


DAKWAH DALAM ISLAMOleh Ustaz Syed Hasan Alatas

 
Allah berfirman yang bermaksud:
"Siapakah yang terlebih baik perkataannya daripada orang yang Menyeru
kepada Allah dan beramal soleh seraya berkata:"Sesungguhnya saya salah
seorang Muslim." (Fussshilat ayat 33)
Perkataan ataupun ucapan menyeru manusia ke jalan Allah adalah suatu amalan yang terbaik dan mulia. Tugas suci ini telah dilaksanakan oleh Rasul-Rasul Allah semenjak mula manusia diciptakan, yang telah ditunaikan oleh ramai utusan Allah S.W.T. antara lain Adam a.s., Noah a.s, Hud a.s, Ibrahim a.s (Abraham), Ismail a.s, .Ishak a.s.(Isaac), Ya'qub a.s.(Yacob), Yusuf a.s.(Joseph), Musa a.s(Moses), Daud a.s.(David), Sulaiman a.s.(Solomon), Isa a.s. (Jesus) dan hingga ke akhir Rasulullah Muhammad s.a.w.Semua mereka menyeru ke jalan Allah, jalan yang benar dan melarang manusia dari perbuatan yang keji dan jahat.
Semua utusan Allah itu telah melaksanakan tugas mereka dengan baik dengan tidak mengharapkan apa-apa upah, malah mereka telah mengorbankan harta benda malah ramai pula diantara mereka yang dikejaar-kejar dan ingin dibunuh, seperti apa yang telah dialami oleh Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s. dan juga apa yang telah dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Rasulullah s.a.w.mengajak manusia ke jalan Allah dengan lemah lembut dan kasih sayang sesuai dengan Firman Allah yang maksudnya:
"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dijalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."(Annahl:125)Usaha menyeru manusia ke jalan Allah bukanlah pekerjaan yang mudah, ia memerlukan pengorbanan segalanya, baik tenaga, harta benda jika diperlukan nyawa sekalipun. Usaha yang mulia ini akan berhadapan dengan banyak halangan dan rintangan yang datangnya dari berbagai penjuru. Jika kita tabah menghadapinya Insya-Allah usaha Dakwah kita akan berjaya..Sejak Adam a.s. hingga hari kiamat syaitan bekerja keras untuk menyesatkan Adam a.s. dan anak cucunya. Bila syaitan menjelma menjadi manusia, maka syaitan manusia ini akan berusaha keras untuk menghalang segala pekerjaan yang baik, terutama sekali Dakwah ke jalan Allah, menyeru kepada yang baik dan melarang daripada yang mungkar. Mereka akan bekerjasama menghalang Dakwah dengan berbagai cara dan daripada  mereka ini kita tidak dapat mengharapkan apa-apa pertolongan. Kita perlu berusaha sendiri. Insya Allah dengan usaha yang tidak mengenal putus asa dan dengan pertolongan Allah Nabi s.a.w.telah mencapai kejayaan.
Kita teringat betapa susahnya Nabi berdakwah dalam menyampaikan seruan Allah. Nabi s.a.w. dihina, difitnah, dituduh orang gila, dikejar-kejar malah mau dibunuh. Baginda pergi ke Taif untuk menyampaikan Dakwahnya. Di sana beliau telah disambut dengan cercaan dan makian. Malah mereka menyuruh budak kecil melempari Nabi s.a.w. dengan batu kayu dan sebagainya, sehingga tubuhnya penuh dengan luka dan kakinya berdarah. Dalam keadaan seperti itu Rasulallah s.a.w. hanya berdo'a:
"Ya Allah tunjukilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya."
Kaum jahiliyah Quraisy terus sahaja berusaha untuk menghalang perjuangan Nabi s.a.w. Tidak cukup dengan cacian dan makian, melemparkan kotoran ke tubuh Baginda, meletakkan duri di depan rumah Baginda, malah Rasulallah s.a.w. dan kaumnya bani Hasyim dan bani Muthalib dipulaukan hingga hampir tiga tahun lamanya.
Mereka dibiarkan di sebuah lembah yang kering kontang, dan tidak dibenarkan siapapun untuk memberikan apa-apa pertolongan.Tidak cukup dengan berbagai penganiaayaan dan kezaliman malah mereka telah membuat pakatan untuk membunuh Nabi s.a.w. Akhirnya Rasulallah s.a.w. diperintahkan Hijrah ke Yathrib (Madinah).
Di Madinah Dakwah Nabi s.a.w.mendapat sambutan diluar dugaan. Di Madinah Nabi s.a.w. disamping mendirikan masjid Rasulullah s.a.w., telah mempersaudarakan  kaum Muslimin yang datang dari Makkah (Muhajirin) dengan kaum Muslimin di Madinah (Ansor). Disamping itu Nabi telah berjaya menyatupadukan semua pendudukan Madinah yang terdiri daripada  berbilang kaum dan agama, dengan membuat perjajian yang terkenal dengan Piagam Madinah.
Alhamdulillah berkat usaha yang gigih dan tak pernah mengenal putus asa yang berlandaskan niat yang ikhlas menyeru manusia kejalan Allah, jalan yang menyelamatkan manusia daripada  kesesatan dan kehancuran, akhirnya Nabi sa.w, dengan pertolongan Allah s.w.t. dan bantuan daripada semua sahabat yang setia dalam perjuangan Rasulullah s.a.w. telah memperoleh kejayaan. Kemudian usaha yang mulia dan suci ini telah dilanjutkan oleh para alim-ulama dan cerdik pandai Islam lainnya. Dengan  bantuan daripada semua pihak terutama daripada para hartawan dan dermawan, akhirnya usaha yang mulia ini telah mendapat pengikut sehingga seperlima daripada penduduk dunia.
Tanggung jawab menyeru ke jalan Allah adalah menjadi tanggung jawab semua pihak, mereka yang tak boleh berdakwah dengan lisan, boleh berdakwah dengan harta benda. Ataupun sekurangg-kurangnya berdakwah dengan contoh teladan yang baik, semoga dengan demikian Insya-Allah usaha yang mulia ini diberkati dan akan memperoleh kejayaan.

Thursday, 21 March 2013

20 KATA - KATA HIKMAH YANG MEMBENTUK JIWA


1- 245. Yahya bin Mu’adz berkata :
[ Sejelek-jelek saudara adalah yang kamu sampai butuh mengatakan :
“Ingatlah saya dalam doamu ... .”
Dan sebagian besar manusia pada hari ini hanya saling mengenal jarang
ada yang berteman secara zhahir apalagi persaudaraan dan persahabatan.
Ini adalah sesuatu yang telah lenyap. Maka janganlah kamu terlalu
mengharapkannya. Saya tidak tahu ada seseorang yang murni bersahabat
dengannya saudaranya senasab (keturunan) juga anak dan isterinya maka
tinggalkanlah keinginan untuk mencari persahabatan yang murni dan
tulus. Jadilah orang yang asing dan bergaullah sebagaimana bergaulnya
Al Ghuraba’. Dan berhati-hatilah kamu (jangan) tertipu oleh orang yang
menampakkan rasa cinta kepadamu karena sesungguhnya seiring perjalanan
waktu akan tampak olehmu cacat cinta yang ditunjukkannya.
Dan Al Fudlail bin Iyyadl berkata :
“Jika kamu ingin berteman dengan seseorang maka buatlah agar ia marah
maka jika kamu lihat keadaannya sesuai dengan syari’at maka bertemanlah
dengannya.”
Situasi saat ini sangat mengerikan sebab jika kamu membuatnya marah
maka ia akan menjadi musuhmu saat itu juga. Adapun penyebab hilangnya
persahabatan yang murni adalah kecintaan terhadap dunia yang menguasai
hati. Sedangkan Salafus Shalih, perhatian mereka senantiasa hanya
tertuju kepada akhirat maka mereka pun memurnikan niat dalam mencari
saudara dan mereka bergaul dengan sesamanya karena agama bukan karena
dunia. Maka jika kamu lihat berkaitan dengan masalah agama maka ujilah
ketika ia marah. ] (Adabus Syari’ah 3/581)
2-  246. Al Qadhi Abu Ya’la berkata :
[ Jika kamu berjalan janganlah menoleh-noleh karena pelakunya dapat
dikatakan sebagai orang yang bodoh.
Syaikh Abdul Qadir berkata : “Bersiul dan bertepuk tangan adalah dua
hal yang dibenci. Begitu pula bersandarnya seseorang hingga keluar dari
posisi duduknya sebab hal itu adalah tindakan kesombongan dan menghina
teman duduk kecuali karena uzur dan juga dibenci menggigit-gigit
(permen) karet karena ini adalah perbuatan yang rendah. Juga dibenci
tertawa terbahak-bahak dan meninggikan suara tanpa ada kepentingannya.
Dan sepantasnya seseorang itu berjalan dengan sederhana
(seimbang-tenang, pent.) tidak perlu terburu-buru sehingga menabrak
orang lain dan menyusahkan diri sendiri. Jangan pula berjalan selangkah
demi selangkah yang dapat menimbulkan rasa bangga terhadap diri
sendiri. Dan termasuk pula perkara yang dibenci adalah menangis
meratap-ratap dan menyanyikan lagu-lagu kematian kecuali jika itu
karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menyesal karena
kehilangan waktu yang sia-sia (tanpa amal) yang juga merupakan
perbuatan yang dibenci adalah membuka tutup kepala di tengah-tengah
manusia dan bagian tertentu yang bukan aurat namun biasanya tertutup.”
] (Adabus Syari’ah 3/375)
3-  247. Al Fudlail berkata :
“Saya lihat jiwaku ini ramah bergaul dengan mereka yang dinamakan teman maka saya cari dari pengalaman ternyata kebanyakan mereka adalah orang-orang yang iri (dengki) terhadap nikmat (kebahagiaan) temannya dan mereka tidak menyembunyikan kekeliruan (zallah) temannya dan senang mengabaikan hak teman duduknya juga tidak mau membantu temannya dengan harta mereka maka sebab itu (ketika) saya perhatikan perkara ini ternyata kebanyakan teman itu iri (dengki) dengan kenikmatan orang lain. Padahal Al Haq (Allah) Yang Maha Suci sangat cemburu kepada hati seorang Mukmin yang cenderung jinak dengan sesuatu (selain Allah) maka Ia keruhkan dunia dan penghuninya agar si Mukmin hanya menyenangi- Nya (jinak kepada Allah).
Maka sepantasnya kamu menganggap semua makhluk itu sebagai kenalan dan jangan kamu tampakkan rahasiamu kepada mereka. Jangan kamu anggap sahabat orang yang tidak cocok untuk digauli tetapi pergaulilah mereka secara zhahir.
Jangan bercampur dengan mereka kecuali dalam keadaan darurat dan itupun sejenak saja kemudian tinggalkanlah mereka. Setelah itu hadapilah urusanmu sambil berserah diri kepada Penciptamu (Allah) sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Allah dan tidak ada yang dapat menolak kejelekan kecuali Dia.” (Al I’tisham 1/158)
4- 248. Ia juga berkata :
“Apabila terjadi kekasaran di antara kamu dan seseorang maka berhati-hatilah kamu darinya jangan kamu harapkan persahabatan yang murni dan mempercayainya sebab sesungguhnya dia akan selalu memperhatikan tindak-tandukmu sedangkan kedengkiannya tersembunyi. Adapun orang yang awam maka menjauh dari mereka merupakan keharusan. Karena mereka tidak termasuk jenismu maka jika kamu terpaksa duduk bersama dalam majelis mereka maka (lakukanlah) sesaat saja dan jagalah kewibawaan dan kewaspadaanmu sebab bisa jadi kau mengucapkan satu kata dan mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang keji. Jangan kau menyuguhkan ilmu kepada orang yang jahil dan (jangan pula) kamu suguhkan orang-orang yang lalai (suka bermain-main) dengan fiqih dan orang yang dungu dengan keterangan (Al Bayan) tapi perhatikanlah apa yang menyelamatkan mereka dengan lemah-lembut dan berwibawa. Jangan meremehkan musuh-musuhmu karena mereka mempunyai tipu daya yang tersembunyi dan kewajibanmu hanyalah bergaul dan berbuat baik kepada mereka secara zhahir. Dan termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang dengki maka tidak pantas mereka mengetahui nikmat yang kamu dapatkan. Dan sesungguhnya Al Ain itu haq sedangkan bergaul dengan mereka secara zhahir itu harus.” (Al Hujjah 1/304)
5- 249. Asy Syathibi berkata :
“Asal kerusakan ini –yaitu mencerca Salafus Shalih– datang dari Khawarij merekalah yang pertama melaknat Salafus Shalih bahkan mengkafirkan shahabat — radliyallahu anhum ajmaiin– dan perbuatan yang seperti ini semuanya menimbulkan permusuhan dan kebencian.” (Al I’tisham 1/158)
6-  250. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Tidak ada seorangpun yang berhak menjadikan orang tertentu sebagai panutan lalu mengajak manusia ke jalan (madzhabnya), bersikap loyal dan memusuhi di atas jalan itu selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan tidak pula ada yang berhak melahirkan ucapan yang dijadikan pegangan (pedoman) untuk bersikap loyal dan memusuhi selain Kalam Allah dan ucapan Rasul-Nya dan apa yang telah disepakati oleh ummat (shahabat). Sebab hal itu tidak lain merupakan perbuatan ahli bid’ah yang senang mengangkat orang tertentu dan melontarkan suatu perkataan yang justru pada akhirnya memecah belah ummat. Mereka menyerahkan loyalitasnya demi pendapat tersebut atau yang mereka nisbatkan (sandarkan) diri mereka kepadanya dan memusuhi orang lain demi membela pendapat dan penisbatan tersebut.” (Majmu’ Fatawa 20/164)
7-  251. Umar bin Abdul Aziz berkata :
“Jika kamu lihat satu kaum berbisik-bisik dengan satu urusan tanpa diikuti (diketahui) oleh khalayak ramai berarti mereka di atas landasan kesesatan.” (Ad Darimy 1/103 nomor 307)
8-  252. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Adapun jika mereka berpindah dari satu madzhab ke madzhab lainnya karena perintah agama misalnya telah jelas baginya keterangan yang lebih kuat lalu ia kembali berpegang dengan pendapat yang ia pandang lebih dekat kepada apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya maka ia diberi pahala dengan sikap yang demikian akan tetapi wajib bagi setiap orang untuk tidak menyimpang atau mengikuti siapapun yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya apabila telah jelas baginya ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan ketaatan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di atas ketaatan kepada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun.” (Fatawa Al Kubra 5/96)
9-  253. Umar bin Al Khaththab berkata :
“Sesungguhnya saya benci kepada orang yang berjalan sia-sia yaitu tidak karena urusan dunia dan tidak pula akhirat.” (Adabus Syariah 3/588)
10-  254. Ibnu Mas’ud berkata :
“Sungguh saya benar-benar membenci orang yang kosong tidak beramal untuk dunia dan tidak pula untuk akhirat.” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf halaman 38)
11-  255. Ibnul Atsir berkata :
“Sesungguhnya meninggalkan ahli ahwa dan ahli bid’ah terus berlangsung seiring perjalanan masa selama mereka tidak menampakkan taubat dan kembali kepada yang haq.” (An Nihayah 5/245)
12-  256. Ibnu Umar berkata :
“Saya tidak mengetahui satu perkara di dalam Islam ini yang menurutku lebih utama daripada selamatnya hatiku dari hawa nafsu yang suka berselisih ini.” (Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/304)
Abu Abdillah Jamal bin Farihan berkata :
“Saya pun tidak mengetahui satu perkara di dalam agama Islam ini yang menurutku lebih utama daripada aku diselamatkan Allah dari sikap fanatik golongan yang sangat dibenci ini yang menelan kurban dari kalangan pemuda dan sebagian para dai di masa kini dan fanatisme itu juga telah mengotori pikiran mereka dan menghalangi mereka dari manhaj Salafus Shalih.”
13-  257. Ayyub bin Al Qariyyah berkata :
“Orang yang paling berhak mendapatkan penghormatan ada tiga yaitu ulama, saudara (sesama Mukmin), dan para penguasa maka siapa yang meremehkan ulama berarti ia merusak kepribadiannya sendiri dan siapa meremehkan penguasa berarti ia merusak dunianya dan orang yang berakal itu tidak akan meremehkan siapapun, adapun yang disebut sebagai orang yang berakal adalah orang yang menjadikan agama itu sebagai dasar syariatnya dan kesantunan adalah wataknya sedangkan logika yang baik adalah pembawaannya.” (Jami’ Bayanil Ilmi Ibnu Abdil Barr 231)
14-  258. Diriwayatkan dari Aly bin Abi Thalib bahwa ia berkata :
[ Di antara hak-hak orang yang berilmu yang harus kamu penuhi adalah
jika kamu mendatanginya berilah salam khusus untuknya lalu untuk
seluruhnya kemudian duduklah di hadapannya dan jangan memberi isyarat
dengan tanganmu dan jangan memandangnya dengan remeh dan jangan berkata
:
“Si Fulan mengatakan pendapat yang berbeda dengan pendapat Anda!”
Dan jangan menarik pakaiannya, jangan mendesak dalam bertanya karena
sesungguhnya kedudukannya bagaikan kurma yang masih basah yang akan
selalu jatuh kepadamu. ] (Ibid)
15-  259. Imam An Nawawi berkata :
“Dalam hadits ini [sikap Ibnul Mughaffal yang meninggalkan shahabatnya
yang menolak (tetap melempar) sesudah dilarangnya padahal telah
disampaikannya sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam] terdapat pelajaran tentang bolehnya meninggalkan ahli bid’ah dan kefasikan serta orang-orang yang menolak As Sunnah padahal ia telah mengetahuinya. Bahkan sesungguhnya boleh pula meninggalkan (menjauhi)nya selama-lamanya.” (Syarh Shahih Muslim 13/106)
16-  260. Dikatakan kepada Imam Al Mizzy : “Si Fulan membencimu!”
Ia menjawab : “Dekat kepadanya bukanlah keramahan dan jauh darinya bukanlah sesuatu yang menakutkan.” (Adabus Syari’ah 3/575)
17-  261. Al Ashma’i berkata, Abu Amru bin Al Ala’ berkata kepadaku :
“Wahai Abdul Malik, berhati-hatilah kamu terhadap orang yang mulia jika kamu menghinanya dan terhadap si pencela jika kamu memuliakannya, serta waspadalah terhadap orang yang berakal jika kamu menyulitkannya, juga terhadap orang yang bodoh jika kamu bergurau dengannya. Dan berhati-hatilah kamu terhadap orang yang jahat jika kamu bergaul dengannya dan bukanlah termasuk adab (akhlak yang baik, ed.) menjawab orang yang tidak menanyaimu atau kamu bertanya pada orang yang tidak dapat menjawab atau kamu berbicara dengan orang yang tidak mau diam memperhatikan (ucapan)mu.” (Ibid)
18-  262. Umar bin Abdul Aziz berkata :
“Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu (Salafus Shalih) itu berhenti di atas dasar ilmu dengan bashirah yang tajam (menembus) mereka, menahan (dirinya), dan mereka lebih mampu dalam membahas sesuatu jika mereka ingin membahasnya.” (Bayan Fadlli Ilmis Salaf 38)
Ibnu Rajab berkata :
“Dan sungguh orang yang datang belakangan lebih banyak terfitnah dalam perkara ini. Mereka menyangka bahwa orang yang banyak ucapannya, debatnya ataupun bantahannya dalam masalah agama adalah orang yang paling berilmu dibanding orang yang tidak seperti itu maka ini sesungguhnya benar-benar kebodohan yang murni, coba perhatikan para pembesar shahabat dan ulama mereka seperti Abu Bakr, Umar, Aly, Mu’adz, Ibnu Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit radliyallahu anhum, bagaimana keadaan mereka padahal ucapan mereka lebih ringkas dari ucapan Ibnu Abbas dan mereka jelas lebih alim dibanding Ibnu Abbas. Begitu pula dengan para tabi’in, ucapan mereka lebih banyak daripada ucapan para shahabat sedangkan para shahabat lebih alim dibandingkan mereka juga para tabi’ut tabi’in, ucapan mereka lebih banyak daripada ucapan para tabi’in namun para tabi’in lebih alim (berilmu) dari mereka. Jadi jelaslah bahwa ilmu tidak diukur dengan banyaknya periwayatan apalagi pendapat akan tetapi ilmu itu adalah cahaya yang diletakkan Allah di dalam hati seorang hamba sehingga ia dapat mengenal yang haq dan membedakannya dari yang bathil serta mampu menerangkan yang haq itu dengan ungkapan- ungkapan yang ringkas dan tepat menurut tujuannya.” (Ibid)
Begitu pula para ulama Rabbani seperti Syaikh Al Allamah Abdul Aziz bin Baaz, Al Albani, Al Utsaimin, dan Syaikh Shalih Al Fauzan. Ucapan mereka lebih ringkas dibandingkan ucapan orang-orang yang menjuluki diri sendiri sebagai dai padahal mereka memenuhi isi kaset ceramah mereka dengan berbagai ungkapan yang panjang lebar (bertele-tele, pent.) sedangkan beliau-beliau ini jauh lebih alim daripada mereka.
19-  263. Ibnu Rajab berkata :
[ Maka wajib diyakini bahwa tidaklah setiap orang yang luas pembahasan
dan perkataannya dalam masalah ilmu lebih alim dari orang yang tidak
demikian keadaannya. Dan sungguh kita pernah diuji dengan kebodohan
sebagian manusia yang meyakini bahwa luasnya pembahasan orang-orang
yang datang belakangan menunjukkan mereka lebih berilmu daripada
orang-orang yang terdahulu. [Seperti ungkapan mereka : “Perkataan
Khalaf (orang-orang yang datang belakangan itu lebih berhikmah (ahkam),
berilmu (a’lam) dan lebih selamat (aslam). Tidakkah mereka tahu apa
bedanya bintang tsurayya dan apa yang di bawah (tahta) ats tsara??
Setiap kebaikan (hanya) dengan mengikuti Salaf, pent.] ] (Ibid)
20-  264. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :
“Bukan suatu aib bagi seseorang untuk menampakkan manhaj Salafus Shalih, menisbatkan diri dan bersandar kepadanya bahkan wajib menerimanya dengan (menurut) kesepakatan para ulama karena sesungguhnya manhaj Salafus Shalih itu tidak lain hanyalah kebenaran.” (Al Fatawa 4/149)

Monday, 18 March 2013

Dakwah Itu Cinta












"..Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." 
[Al-Hujurat, 7]

Dakwah itu cinta,
yang bermuarakan cinta kepada Allah swt,
cinta kepada RasulNya,
cinta kepada kaum keluarga, 
cinta kepada masyarakat.

 Dakwah itu cinta,
memastikan setiap hati terasa keindahannya..
menjadikan nurani mudah tersentuh dengan kelembutannya..

bukanlah dakwah jika ia menyakiti jiwa..
hingga akhirnya manusia meminggirkan agama.

Sunday, 17 March 2013


Cinta itu buta?
Memang cinta itu tidak bermata,
Tapi tidak pula buta,
Kerana kitalah mata itu,
Mata yang letaknya di hati,
Hati yang seharusnya berjalankan petunjukNya
bukannya…
yang disuluh dari cahaya duniawi.
Seharusnya janganlah biar ia dikaburi nafsu ,
Kelak ketajaman mata itu kian hilang bisanya lalu terus tumpul.
Asahlah ia dengan zikrullah,
Siramilah ia dengan basah lidah suarakan selawat buat Rasullullah,
Suburilah ia dengan muhasabah…
Firman Allah yang bermaksud : “Maka tidak pernahkah kamu berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya, bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Surah al-Hajj : 46)

Kenapa dikatakan cinta itu buta??
Kerana bila tidurnya tidak lena ,
Mandinya tidak basah,
Makannya tidak kenyang,
Hilang tumpuan sibuk & asyik terkenangkan orang tersayang,
Ingatan persis layang-layang terbang di awan terapung bersama angan-angan,
Bila nasihat orang tua dikatakan penghalang,
Bila yang haram menjadi halal,
..berjalan beriringan sambil berpegang tangan,
.. naik motor berpelukan takut tercicir dijalanan,
.. lama -kelamaan kesucian menjadi korban,
Kononnya sebagai tanda cinta sejati tidak berbelah bahagi.
Yang paling diendahkan..
Bilamana tanggungjawab sebagai hamba-Nya mula diabaikan,
Bilamana kitabNya sudah tidak betah ditangan,
..dek kerana mata hati yang mula kabur terjerumus dalam cinta dunia..

Ya Allah, jangan kiranya hati itu milikku,
Ya Allah, jangan juga kiranya anak itu adalah aku,
Ya Allah, ku tak sanggup memiliki tangan itu,
Ya Allah, jauhkanlah dari ‘dimiliki’ mahupun memiliki cinta seperti itu.
Ya Allah , ku takut kiranya akulah hambaMu yang tidak bertanggungjawab itu…
Ku pohon padaMu , payungilah aku dari panahan nafsu syaitan,
Ku harapkan teduhan di bawah lembayung rahmatMu,
Ku tagih redup dari rimbunan pohon kasih sayangMu,
Ku tahu ya Allah, ku tak layak menghuni syurgaMu,
tapi tidak pula ku ingin ke Neraka-Mu..Amin.
Namun begitu ya Allah, layakkah aku untuk CINTA AGUNG-MU??
Daripada Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud : “Dunia penjara orang Mukmin dan Syurga orang kafir.” (Riwayat al-Tirmizi dan al-Hakim)